Renungan Pagi: Pelangi di Langit, Luka di Tanah (Kejadian 9:1–29)
Pagi ini aku membaca Kejadian pasal 9—saat hujan sudah reda, tanah kembali kering, dan hidup mulai berjalan lagi. Awal yang baru.
Tuhan memberkati Nuh dan anak-anaknya, dan memberi mereka mandat:
“Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.” (ayat 1)
Itu kalimat yang mirip seperti yang Tuhan ucapkan pada Adam. Seolah Tuhan berkata: “Mari kita mulai dari awal lagi.”
Tapi Tuhan tahu, manusia tetap punya potensi untuk jatuh. Maka kali ini Ia membuat perjanjian. Sebuah janji suci, bukan hanya dengan manusia, tapi juga dengan seluruh makhluk hidup.
Dan Tuhan menaruh sebuah tanda.
“Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.” (ayat 13)
Pelangi.
Aku suka saat hujan berhenti dan langit mulai membuka warna-warni itu. Indah, tenang, penuh harapan. Tapi di balik keindahannya, pelangi adalah tanda janji dari Allah—bahwa Ia tidak akan membinasakan bumi seperti sebelumnya. Bahwa Ia tetap setia, meski manusia rapuh.
Pelangi muncul setelah badai, bukan sebelum. Itu mengingatkanku bahwa janji Tuhan tidak berarti hidup bebas dari air mata, tapi bahwa Tuhan tetap hadir dan menepati janji-Nya, bahkan setelah dunia kita terasa luluh lantak.
Tapi bagian akhir pasal ini mengejutkan. Setelah semua keagungan janji dan berkat, kita melihat sisi rapuh manusia lagi.
Nuh mabuk. Terbaring telanjang di kemah. Dan salah satu anaknya, Ham, mempermalukannya. Dua anak lainnya, Sem dan Yafet, menutupi ayah mereka dengan penuh hormat—tanpa melihat, tanpa menghakimi.
Di sini aku diingatkan bahwa:
Bahkan orang yang “dipilih” pun bisa jatuh. Nuh adalah orang benar. Tapi dia juga manusia.
Cara kita merespons kelemahan orang lain menunjukkan isi hati kita. Apakah kita mengekspos? Atau menutup dengan kasih dan hormat?
Aku pernah melihat orang yang kukagumi jatuh. Dan jujur saja, mudah untuk kecewa atau merasa lebih baik. Tapi hari ini aku diingatkan bahwa bagian dari mengasihi adalah menutupi dengan kasih, bukan menutupi kebenaran, tapi tidak mempermalukan.
Pagi ini aku belajar:
Tuhan membuat janji yang tak tergoyahkan, meski Ia tahu kita goyah.
Pelangi adalah pengingat bahwa pengampunan dan pengharapan bisa datang setelah badai.
Dan bahwa saat melihat kelemahan orang lain, aku bisa memilih: mempermalukan, atau menutupi dengan kasih.
Doa Mengawali Hari:
Tuhan, aku tahu aku juga bisa jatuh. Tapi aku bersyukur, Engkau tidak meninggalkanku dalam kejatuhan.
Ajari aku untuk hidup dengan hormat, dan untuk menjadi pengingat kasih-Mu bagi orang lain—seperti pelangi setelah hujan. Amin.
Comments
Post a Comment