Posts

Showing posts with the label Renungan

KHOTBAH Yehezkiel 33:1–20 “Orang Bertobat dengan Melakukan Keadilan dan Kebenaran Pasti Hidup”

Image
Shalom, damai di hati. Firman Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan pesan yang dalam dari kitab Yehezkiel. Tuhan berbicara kepada Yehezkiel tentang peran seorang penjaga. Penjaga itu bertugas meniup sangkakala ketika bahaya datang. Kalau ia tidak meniup sangkakala, maka darah orang yang binasa akan dituntut darinya. Tapi kalau ia sudah meniup sangkakala, lalu orang tidak mendengar, maka orang itu menanggung akibatnya sendiri. Gambaran ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat serius. Sebab, peran penjaga bukan hanya soal melihat bahaya, tapi soal tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain. Dan ini yang Tuhan tekankan juga kepada umat Israel: bahwa hidup mereka tidak bisa hanya dipenuhi alasan, kesenangan, atau kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab di hadapan Tuhan. Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba canggih, dan serba instan. Di satu sisi, kemajuan zaman membawa banyak manfaat. Tapi di sisi lain, nilai-nilai iman, rasa memiliki terhadap gereja, bahkan...

KHOTBAH Mazmur 145:1–21 “Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya yang Kudus”

Image
Shalom,  Damai di hati... Hari ini kita diajak merenungkan satu mazmur yang begitu indah, Mazmur 145, dengan perikop “Puji-pujian karena kemurahan Tuhan.” Dari awal sampai akhir, mazmur ini penuh dengan kesadaran bahwa hidup manusia bahkan seluruh ciptaan pada dasarnya diarahkan untuk satu hal yaitu memuliakan Tuhan. Kalau kita perhatikan, pemazmur tidak hanya mengajak manusia untuk memuji, tetapi juga menyebut “segala makhluk.” Seolah-olah mau digambarkan bahwa semesta raya, dari burung yang berkicau sampai ombak yang bergulung, semua ikut bernyanyi bersama. Semua ciptaan diajak memuji Nama-Nya yang Kudus. Namun mari kita jujur. Dalam kehidupan sehari-hari, kata pujian sering kali terasa sangat manusiawi. Kita senang dipuji, bahkan kadang kita haus pujian. Dalam bahasa sehari-hari ada istilah “makang puji/papujien,” artinya seseorang merasa kenyang, bahagia, atau berharga kalau dipuji. Sementara kalau tidak ada pujian, hatinya bisa terasa kosong. Bukankah sering kita t...

Renungan Pagi: Saat Tuhan Meminta yang Paling Aku Kasihi (Kejadian 22:1–19)

Image
Pagi ini aku membaca Kejadian pasal 22—dan aku terdiam lama. Karena ini bukan pasal yang mudah. Ini tentang pengorbanan. Tentang kepercayaan. Tentang ujian yang terasa… terlalu berat. Tuhan memanggil Abraham—dan ia menjawab, “Ini aku.” Lalu datang perintah yang seperti membelah jantung: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran..." (ayat 2) Tuhan menyuruh Abraham mempersembahkan Ishak. Anak yang dijanjikan. Anak yang begitu ditunggu-tunggu. Anak yang dikasihi. Ishak bukan sekadar anak—dia adalah janji, harapan, masa depan. Dan tidak ada protes. Tidak ada debat panjang. Hanya satu kalimat: “Keesokan paginya, pagi-pagi bangunlah Abraham…” (ayat 3) Aku berhenti di situ. Karena jujur, aku tidak tahu apakah aku bisa seperti itu. Melepaskan sesuatu yang begitu aku kasihi. Menyerahkan sesuatu yang selama ini aku pikir sebagai jawaban doa. Aku membayangkan malam sebelum perjalanan itu. Apakah...

Renungan Pagi: Apakah Ada yang Mustahil? (Kejadian 18:1–33)

Image
Pagi ini aku membaca Kejadian 18—dan rasanya seperti menyaksikan dua dunia dalam satu pasal: yang satu tentang janji dan tawa, yang satu tentang keadilan dan doa. Tapi keduanya mengungkap satu hal yang sama: hati Tuhan yang sangat dekat dengan manusia. Bagian pertama: Tuhan dan dua malaikat datang ke kemah Abraham. Tidak dengan petir atau awan, tapi dalam rupa tiga orang asing. Abraham menyambut mereka, menyediakan air, makanan, tempat istirahat. Dan di tengah jamuan sederhana itu, Tuhan menyampaikan sesuatu yang sudah lama dinanti: “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan dan Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” (ayat 10) Sara mendengar. Dan ia tertawa. Bukan tawa sukacita. Tapi tawa pahit yang tidak terdengar di mulut tapi bergema di hati. “Masakan aku akan melahirkan, sedang aku telah menjadi tua?” (ayat 12) Tapi Tuhan tahu. Bahkan tawa yang tersembunyi pun dikenali oleh-Nya. Dan Ia bertanya: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” (ayat 14...

Renungan Pagi: Nafas, Taman, dan Sunyi yang Tidak Baik (Kejadian 2:1–25)

Image
Baca Kitab Kejadian Pasal 2 Pagi ini aku bangun lebih lambat dari biasanya. Ada keheningan yang agak berat, tapi juga menenangkan. Langit masih buram, suara burung belum terlalu ramai. Rasanya seperti dunia juga sedang menarik napas. Lalu aku buka Alkitab dan membaca Kejadian pasal 2. Di sini, ceritanya lebih pelan dari pasal sebelumnya. Kalau Kejadian 1 seperti paduan suara megah tentang penciptaan alam semesta, Kejadian 2 terasa seperti bisikan—lebih dekat, lebih personal. Tuhan tidak lagi hanya berkata "Jadilah...", tapi sekarang Dia membentuk manusia dari debu, dengan tangan-Nya sendiri, dan menghembuskan napas ke dalam hidung manusia. Napas itu—napas Tuhan—jadi hidup yang pertama. Aku berhenti sebentar di situ. Tuhan membentuk dari debu—bahan paling rendah, paling biasa. Tapi Dia juga memberi napas-Nya sendiri—bagian paling kudus. Jadi, kita ini rapuh dan mulia sekaligus. Itu membuatku berpikir: mungkin wajar kalau kadang aku merasa kuat, kadang lemah. Mungkin keduanya m...

Renungan Pagi: Terang, Ritme, dan "Sungguh Amat Baik" Kejadian 1:1–31

Image
Baca Kejadian 1:1-31 Pagi ini aku membaca ulang bagian pertama dari Alkitab. Kejadian pasal 1. Ayat yang sangat familiar, tapi tetap saja terasa baru setiap kali dibaca: > “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Ada sesuatu yang menenangkan dari kalimat itu. Dunia ini tidak terjadi begitu saja. Hidup ini bukan hasil kebetulan. Ada permulaan. Dan di permulaan itu, ada Allah. Yang menarik, kisah penciptaan dimulai bukan dari sesuatu yang sudah rapi dan cantik. Tapi justru dari bumi yang kosong, gelap, tak berbentuk. Dan dari situ, Allah mulai menciptakan, satu hari demi satu hari. Langkah demi langkah. Hari pertama: terang. Hari kedua: langit. Hari ketiga: daratan dan tumbuhan. Hari keempat: matahari dan bulan. Hari kelima: ikan dan burung. Hari keenam: hewan dan akhirnya manusia. Ada urutan. Ada ritme. Tidak tergesa-gesa. Tidak serba langsung. Aku merenung sejenak—mungkin hidup juga seperti itu. Kadang aku ingin segala sesuatunya selesai sekarang juga. Tapi Tuhan bekerja se...

Renungan: Saat Hidup, Berdiakonia-lah (Lukas 16:19-31)

Image
Syalom.. Saudaraku yang dikasihi Tuhan, Setiap hari kita diberi kesempatan untuk berbuat baik. Namun, sering kali kita sibuk dengan kenyamanan dan kepentingan pribadi, sehingga lupa melihat orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan.  Perumpamaan dalam Lukas 16:19-31 mengingatkan kita tentang pentingnya hidup dalam kasih dan pelayanan kepada sesama (diakonia) sebelum semuanya terlambat.  1. Kesempatan yang Tidak Digunakan Dalam perumpamaan ini, orang kaya menikmati hidup dalam kemewahan, tetapi ia mengabaikan Lazarus yang kelaparan di depan rumahnya. Padahal, ia memiliki lebih dari cukup untuk membantu. Namun, keegoisannya membuatnya buta terhadap penderitaan orang lain. Seberapa sering kita bersikap seperti orang kaya ini? Kita memiliki berkat yang cukup, bahkan berlimpah, tetapi menutup mata terhadap mereka yang kelaparan, kesulitan, atau membutuhkan dukungan? Tuhan tidak hanya melihat ibadah kita di gereja, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan sesama kit...